Langsung ke konten utama

Postingan

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐮𝐭𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐝𝐚𝐧𝐚𝐧

Hari itu, Selasa, 10 Juli 2025. Jarum jam menunjuk pukul sebelas siang. Matahari mengambang di atas kepala, tidak terlalu garang namun cukup membuat bayangan jatuh tegas ke tanah. Langit bersih, langit Baubau yang pada musim ini bersahabat dengan hati yang sedang ingin berdiskusi. Siang itu, saya tidak sedang mengejar janji atau terburu waktu, melainkan hendak mengisi hari dengan perbincangan penuh makna bersama seorang sahabat, guru, sekaligus pemikir pendidikan—Ustadz Faisal Islamy, M.Pd. (Pimpinan Pondok Al-Amanah). Kami duduk bersila di ruang sederhana namun bersih dan lapang, suasananya tenang dan teduh. Suara kipas angin bersanding akrab dengan canda tawa kami yang menyelingi obrolan penuh keseriusan. Tidak ada meja bundar seperti dalam simposium akademik, tidak pula pengeras suara atau proyektor. Tapi diskusi kami hari itu memancar terang, melebihi cahaya presentasi digital manapun. Kami bicara tentang *mutu pendidikan*. Tentang bagaimana sejatinya sebuah lembaga pendidikan tida...

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐜𝐢𝐤 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐃𝐚𝐮𝐧 𝐊𝐚𝐧𝐤𝐮𝐧𝐠: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐊𝐞𝐛𝐮𝐧 𝐈𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢

Oleh : LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Selasa, 10 Juli 2025. Jam di hpku menunjukkan pukul 14.00 ketika langkah kaki ini menapaki jalur tanah menuju sebuah kebun sederhana, tapi tertata apik di Liabuku. Namanya Kankung Garden , sebuah lahan hijau hasil olahan tangan sabar Ustad Muh. Zaki. Di bawah payung langit yang teduh, aroma tanah basah dan semilir angin dari pepohonan sekitar membalut jiwa yang haus rehat dari hiruk-pikuk rutinitas kota. Hari ini, saya tidak sendirian. Bersama saya, duduk santai di sebuah Gubuk berlantai bambu, Ustad Arman, M.Pd—alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dan kini pengabdi penuh cinta di Pondok Al-Amanah. Beliau bukan hanya pendidik, tapi juga petani spiritual, yang merawat jiwa dan tumbuhan sekaligus. "Saya traktir nasi goreng dulu, biar ngobrolnya makin hidup," katanya berseri, sambil mengeluarkan dua bungkus nasi goreng dari plastik. Kami duduk di bawah atap rumbia Gubuk yang teduh, sambil memandang rimbun daun kankung yang tumbuh...

𝐏𝐢𝐬𝐚𝐧𝐠 𝐖𝐚𝐥𝐚𝐧𝐝𝐚, 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐉𝐨𝐠𝐣𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧

Oleh: LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Minggu sore, 13 Juli 2025, langit di atas Liabuku tampak tenang. Awan-awan tipis menggantung bagai tirai putih di langit biru, seolah sedang menyaksikan kisah persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Saya melangkah ke kediaman seorang sahabat, Ustadz Abdul Muizu, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, sekaligus kini menjadi salah satu pengasuh santri di Pondok Al-Amanah Liabuku. Di rumah yang sederhana namun hangat itu, saya disambut bukan hanya dengan tangan terbuka, tapi juga dengan wajah penuh keramahan dari istrinya, Ustadzah Kasmi, yang juga alumni pondok Al-Amanah dan kini menjadi salah satu pengajar teladan. Kami duduk melingkar di ruang tamu, ditemani secangkir teh panas dan suguhan pisang walanda—kue khas Bugis yang manisnya menyentuh sampai ke kalbu. Kudapan itu dipesan langsung dari sahabat kami, Ustadzah Siti Rahma, yang kini menjadi seorang wirausaha kuliner sukses, menyebar cita rasa nusantara dari dapurnya di Liabuku ...

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐲𝐮 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐓𝐢𝐠𝐚 𝐇𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐢 𝐆𝐮𝐛𝐮𝐤 𝐏𝐨𝐧𝐝𝐨𝐤

Oleh : LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Minggu malam, 13 Juli 2025. Langit malam seperti sedang menahan tangis, menggantungkan gerimis yang tak turun, menyisakan kesyahduan yang menyelinap pelan ke dalam relung hati. Di sebuah sudut Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, tepatnya di gubuk kecil yang penuh kenangan, kami bertiga duduk dalam sunyi yang bermakna. Gubuk itu bukan sembarang bangunan; ia saksi bisu tumpahan cita-cita, isak perjuangan, dan obrolan-obrolan yang lebih tajam dari pidato para negarawan. Saya, terbaring santai di atas sajadah yang sudah agak lusuh tapi penuh sejarah, memandang remang lampu pondok yang menyusup dari sela-sela jendela. Di seberang saya, Ustad Syarifuddin Nanti—akrab kami sapa Komenk—duduk di kursi kayu. Sebuah laptop menyala di depannya, jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, seperti menggubah puisi yang menuntut kejujuran rasa. Matanya tajam, fokus pada deretan huruf yang mulai membentuk makna. "Aku sedang merayu imajinasiku," katan...

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝 𝐅𝐚𝐢𝐬𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦𝐲

Oleh: LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Rabu pagi, 2 Juli 2025. Langit Baubau seperti baru saja terbasuh doa, awan bergumpal pelan dan angin bergerak dengan langkah halus. Hari ini, saya menuju Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, setelah beberapa hari hanya menjadi niat yang tertahan oleh kesibukan. Hari ini, niat itu mengeras menjadi langkah. Saya ingin menyambangi seorang guru, ustad, sahabat, sekaligus pemikir pendidikan yang dalam—Ustad Faisal Islamy, M.Pd., (Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku) Dari rumah, saya sempat menyimak siaran langsung apel pembukaan tahun ajaran baru KMI Ponpes Al-Amanah melalui Facebook. Ada denyut semangat di wajah-wajah santri baru, dan di tengah kesibukan itu, saya melangkah masuk ke kantor guru. Sepatu saya lepas, adab seorang murid. Di ruang itu, aroma kopi dan kitab bersatu dalam kesunyian yang bermakna. Saya melihat Ustad Muiz dan Ustad Faisal. Kami bersalaman, bukan hanya karena tradisi, tapi karena hormat yang lahir dari hati. Tak lama, saya duduk di...

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐊𝐨𝐩𝐢 𝐒𝐮𝐬𝐮, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐊𝐢𝐨𝐬 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐅𝐚𝐢𝐫𝐮𝐳

Foto: (Dari Kanan) tampak Ustad Jamal Ponda, Ustad Kasmas, Ustad Riyan Ahmad, Ustad Hamied, dan Saya Catatan : LAR (Sang Pengelana Pendidikan) Gerak Jemari IKPS- , Sabtu malam, 28 Juni 2025. Jam menunjukkan pukul 20.00 ketika saya, Ustad Riyan Ahmad, Ustad Mulimu, Ustad Kasman, Ustad Jamal Ponda, Ustad Harun Bahrun yang masing-masing memarkirkan motor dan sedikit melangkah  ke sebuah tempat yang telah menjadi beranda peradaban kecil bagi kami—Kios Mama Fairuz. Terletak di samping Kuburan Islam Bataraguru, kios ini tak hanya menjual aneka roti dan pulsa, tapi juga menjadi ruang berkumpulnya gagasan, nostalgia, dan bara semangat dari para alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Malam itu langit menggelayut mendung, dan rintik hujan seperti memainkan simfoni lembut di atas atap seng kios. Di dalam, cahaya lampu philip menyinari wajah-wajah yang tak asing: Ustadz Kasman Rauf, anggota DPRD Buton Tengah yang lugas dan bersahaja, dan Ustadz Jamal Ponda, sosok tenang nan cerdas, kin...