Hari itu, Selasa, 10 Juli 2025. Jarum jam menunjuk pukul sebelas siang. Matahari mengambang di atas kepala, tidak terlalu garang namun cukup membuat bayangan jatuh tegas ke tanah. Langit bersih, langit Baubau yang pada musim ini bersahabat dengan hati yang sedang ingin berdiskusi. Siang itu, saya tidak sedang mengejar janji atau terburu waktu, melainkan hendak mengisi hari dengan perbincangan penuh makna bersama seorang sahabat, guru, sekaligus pemikir pendidikan—Ustadz Faisal Islamy, M.Pd. (Pimpinan Pondok Al-Amanah). Kami duduk bersila di ruang sederhana namun bersih dan lapang, suasananya tenang dan teduh. Suara kipas angin bersanding akrab dengan canda tawa kami yang menyelingi obrolan penuh keseriusan. Tidak ada meja bundar seperti dalam simposium akademik, tidak pula pengeras suara atau proyektor. Tapi diskusi kami hari itu memancar terang, melebihi cahaya presentasi digital manapun. Kami bicara tentang *mutu pendidikan*. Tentang bagaimana sejatinya sebuah lembaga pendidikan tida...